Tips Ketika Datang ke Wedding Expo

Halo! Untuk yang merencanakan pernikahan pasti sudah tidak asing lagi dengan wedding expo. Menurut saya ke wedding expo itu penting, karena bisa dapat gambaran lebih luas mengenai rencana pernikahan sekaligus bisa tau berbagai vendor dengan lebih detail. Selain itu, biasanya di wedding expo vendor akan memberikan diskon atau bonus bonus tambahan.

Saya akan sharing mengenai tips untuk pasangan yang berencana datang ke wedding expo.

Jangan terlalu ‘Buta’

Disana akan banyak sekali vendor-vendor yang sedang bersaing. Kalo bisa, sebelum wedding expo kita sudah tau target-target vendor yang kita incar tuh apa aja. Lebih baik lagi kalo sebelumnya kita sudah tau pricelist mereka, jadi sekalian bisa membandingkan harga di expo dan harga normalnya.

Sebaiknya juga kita sudah mengetahui apa concern kita dalam memilih vendor, jadi ketika bertanya disana nanti lebih enak. Misalnya, kita concern ke rias dan busana, karena biasanya itu masuk ke paket catering, jadi kita bisa tanya-tanya rekanan rias busana catering tersebut, sekalian saja minta pendapat marketingnya mengenai vendor rias busana rekanannya.

Bawa tas yang agak besar

Disana akan banyak sekali dapat brosur-brosur. Baiknya bawa tas yang cukup besar agar bisa memasukan brosur-brosur tersebut dalam tas, jadi nggak repot nenteng-nenteng brosur. Tapi jangan bawa koper juga ya.. ribet. Bawa tas yang nyaman dan muat banyak. Lalu karena disana banyak orang jadi sebaiknya jaga barang masing-masing ya.

Jangan makan dulu sebelumnya

Disana vendor catering biasanya juga akan mengadakan test food di standnya. Kalo sebelumnya sudah makan, nanti disana nggak akan kuat untuk mencoba berbagai jenis makanan. Ya lumayan juga kan disana bisa makan gratis.. hehe. Tapi sebaiknya walaupun tidak disarankan kesan dalam kondisi kenyang, jangan sampe kesana saat sangat kelaparan, karena dalam kondisi ekstrim lapar atau kenyang, penilaian kita terhadap makanan cenderung tidak objektif.

Beli tiket presale/online

Di beberapa wedding expo yang berbayar, biasanya menjual juga tiket presale atau online yang harganya lebih murah dibanding tiket on the spot. Jadi ada baiknya beli tiket online dulu sebelum kesana. Seperti acara wedding expo yang saya datangi sebelumnya di Balai Sudirman, tiket on the spot adalah 35rb, sedangkan bila beli online hanya 20rb.

Jangan datang di hari terakhir

Jadi biasanya di wedding expo itu vendor memberikan promo/bonus/diskon spesial, yang hanya bisa diberikan jika deal di wedding expo tersebut. Wedding expo juga biasanya berlangsung selama 2-3 hari. Kalau datang di hari pertama atau hari kedua (bukan hari terakhir), kita jadi punya waktu untuk pulang dulu, berpikir secara jernih dulu, dan ngobrol dulu dengan keluarga sebelum memutuskan untuk deal di satu vendor. Apalagi kalau ternyata disana galau akan beberapa vendor, di rumah bisa pikirin dulu plus minusnya, baca-baca dulu review orang-orang mengenai vendor tsb, dan lain-lain.

Semoga tulisan ini membantu. Semangat ya para pasangan yang sedang mempersiapkan pernikahannya. Feel free to discuss ya 😀

Salam,

Nab

Wedding Preparation Journey: Gedung Pernikahan di Jakarta Selatan & Depok

Tahun 2019 adalah tahun dimana anak-anak kelahiran 1994 berusia 25 tahun. Which means ini tahun dimana banyak teman-teman saya mulai mempersiapkan pernikahan. Ehm.. termasuk saya (Aamiin).

Untuk anak pertama seperti saya, mempersiapkan pernikahan itu clueless banget. Nggak tahu harus mulai dari mana sejak memutuskan untuk serius dan merencanakan pernikahan dengan Mas Pacar. Luckily, I have some married friends. Mulai lah nanya-nanya harus mulai dari mana, apa yang harus dilakukan, H min berapa sebaiknya dilakukan persiapan.

Hasilnya: there’s no standards in preparing a wedding, baby. Mau lamaran dulu baru mulai persiapan, bisa. Mau persiapan dulu baru lamaran, monggo. Mau H min setahun, silahkan. Mau H min dua bulan pun bisa loh (ya konsekuensinya semua harus dikerjakan dengan cepat).

Tapi dari sharing-sharing tersebut, satu hal yang harus kita tau saat persiapan pernikahan: pernikahan seperti apa sih yang kita mau?

Mau yang murah apa mahal?

Mau yang mewah apa sederhana?

Mau undang sekampung apa inner circle aja?

Budgetnya adanya berapa?

((Itu bukan satu pertanyaan Bileee))

Nah setelah itu, bisa disesuaikan, pernikahan yang kita mau (dan mampu) cocoknya di rumah apa di luar rumah sih. Kalau di luar rumah berarti butuh tempat yang seperti apa, indoor atau outdoor, dll.

Menurut saya, hal pertama yang harus disiapkan itu gedung, karena tanggal pernikahan bisa dikunci kalau gedung udah fix. Catering dan vendor-vendor lain bisa lebih mudah dipilih ketika sudah memilih gedung, karna bisa pilih mana yang rekanan, mana yang lebih cocok, dan lain-lain.

Kebetulan saya sudah sempet survey ke beberapa gedung di Jakarta Selatan dan Depok. Berikut saya share beberapa review, kontak, dan harga dari beberapa gedung yang sudah saya survey. Ini untuk kapasitas 800 pax alias 400 undangan ya. Kapasitas gedungnya sih macem-macem kok, ada beberapa yang bisa sampe 1000 pax juga.

Felfest UI

Plus: Lumayan strategis untuk saya yang tinggal di Jagakarsa dan Mas Pacar yang tinggal di Beji Depok. Gedungnya baru di dalam kampus UI, bangunannya sih lumayan menurut saya, ngga terlalu besar tapi tingkat, bisa dibuat semi outdoor bisa dibuat indoor. Akad bisa di outdoor di pinggir danau. Cantik untuk foto atau video. Ada diskon untuk alumni UI.

Minus: Di dalem kampus, jadi nggak terlalu kelihatan dari jalan utama. Ceilingnya nggak begitu tinggi, temboknya kaca jadi kalau siang agak panas, karna ada dua lantai (biasanya pelaminan di atas, makanan di bawah) jadi tamu kebagi dua gitu. Rekanan vendor pun tidak terlalu banyak.

Harga: Gedungnya aja siang 18.5 juta, malam 20 juta. Kalo paket 130an juta 800 pax udah all in. Ada diskon untuk alumni UI.

Kontak: Ririn – 0895627345432

Wisma Makara UI

Plus: Sama seperti felfest, strategis karna ada di dalam UI. Seperti gedung-gedung pada umumnya karena bangunannya nggak macem-macem. Lumayan bagus, ada lampu kristal cantik ditengah-tengahnya. Kalo misalnya gedung kurang gede bisa nambah kolam renang disampingnya.

Minus: Susah dicari karena ada di dalam kampus UI. Gedungnya biasa aja sih. Parkirannya nggak enak karena berjejer di sepanjang jalan gitu.

Harga: Disana nggak ada paket, cuma gedung aja. 17.5 juta, kalo nambah kolam renang nambah 3.75 juta.

Kontak: Agustin – 082244986661

Departemen Pertanian

Plus: Gedungnya gede, strategis deket tol dan di jalan gede, parkirannya luas, harganya juga cukup terjangkau untuk gedung di Jl. TB Simatupang.

Minus: Booking harus dari jauh-jauh hari banget, setahun sebelumnya lah kira-kira. Jadi sistemnya buka booking setiap bulan Juni (kalo ga salah) untuk tahun berikutnya. Dan itu cepet banget penuh. Lalu diutamakan orang internal Dept Pertanian dulu, baru orang luar. Dan disana nggak ada orang marketingnya. Jadi nanya-nanya harus langsung kesana.

Harga: Dibawah 10 juta (lupa tepatnya). Itu hanya gedungnya aja karna disana ngga ada paket.

Kontak: Ga ada. Harus dateng kesana office hour Senin-Jumat.

Gedung Elnusa

Plus: Gedung ini ada di Jl. TB Simatupang, lokasinya cukup strategis, deket tol JOR. Parkiran luas. Aula gedungnya berkarpet (which is bagus karna gedung berkarpet selalu terlihat lebih mewah), aulanya nggak terlalu luas, tapi untuk wedding yang dipakai adalah entire lobby gedung Elnusa.

Minus: Karna yang dipakai lobby dan aula, bentuknya jadi seperti huruf U, tamu jadi seperti terbagi dua. Harganya lumayan lebih mahal dibanding gedung-gedung sebelumnya.

Harga: Disini harus paket, tidak bisa hanya gedung. Paketnya 180-200 juta untuk 500 porsi buffet (harga bergantung catering yang dipilih)

Kontak: Endy – 081287776772

Plaza Sovereign

Plus: Ini juga gedung di Jl. TB Simatupang which is strategis. Gedungnya ada di lantai paling atas, ada kaca gede yang mengarah ke luar, kalo malem viewnya city light, keren. Gedungnya berkarpet juga jadi terlihat mewah. Weekend gedungnya nggak dipake, jadi bisa pake lobby juga untuk photo booth atau penerima tamu.

Minus: Tempatnya rawan kelewatan, tapi ga masalah sih sebenernya. Kalo siang kaca yang mengarah ke luar ditutup karna panas. Lalu karna gedung ada di lantai paling atas, jadi lumayan juga tamu harus antri nunggu lift. Bentuk gedung memanjang.

Harga: Paket pernikahan 800 pax 185,7 juta.

Kontak: 08170015111

Bumi Wiyata

Plus: Strategis, di jalan Margonda. Parkiran luas. Gedung juga lumayan gede, tapi seinget saya nggak berkarpet. Terakhir liat gedungnya beberapa tahun lalu jadi udah agak lupa detail gedungnya. Disana ada 3 aula yang disesuaikan dengan jumlah tamunya.

Minus: Macet, tapi nggak masalah sih sebenernya. Untuk catering mesti pakai yang dari hotel nggak ada pilihan vendor lain.

Harga: Hanya bisa paket. Untuk yang 800 pax 160 juta.

Kontak: Emil – 0817733780

Gedung 165

Plus: Tempat strategis di Jl. TB Simatupang. Ada 3 aula yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan kita, rekanan vendor pun banyak. Fyi, walaupun ada lebih dari 1 aula, tapi di Gedung 165 tidak menyelenggarakan lebih dari 1 pernikahan dalam 1 waktu, agar tidak ada tamu yang salah masuk. Tempatnya bagus, besar, dan berkarpet. Parkiran juga luas. Kalo ada budgetnya sih menurut saya disini bagus.

Minus: Minus utama sih nggak masuk budget saya.. hehe.

Harga: Hanya ada paket. Paket 600 pax 180 juta belum termasuk dekorasi, fotografi, rias busana, MC dan entertainment.

Kontak: Hanafi – 082113598597

Gedung Antam

Plus: Ini kantor saya jaman dulu! Tempatnya strategis di Jl. TB Simatupang, deket dengan akses tol, dan parkiranyya luas. Gedungnya berkarpet, lumayan gede, tapi kayaknya kalo tamunya lebih dari 1000 ya sumpek juga. Rekanan vendornya juga banyak. Dulu pengen disini karna deket kantor lama (karna kantor saya di Tower B Antam), tapi setelah dipikir-pikir, GA ADA KEUNTUNGANNYA JUGA WEY KALO NIKAHAN DI SEBELAH KANTOR, KAN ABIS NIKAHAN GA MUNGKIN KERJA JUGA.

Minus: Ini peminatnya cukup banyak juga jadi kayaknya nggak bisa dadakan. Harga-harga gedung di TB Simatupang ini cenderung lebih mahal dibanding di Depok.

Harga: Gedungnya aja 27.5 juta. Paketannya saya nggak nanya.

Kontak: Yetty – 08128095721

***
Oke sekian dulu pembahasan saya mengenai gedung-gedung pernikahan ini. Sebenarnya masih banyak banget gedung di sekitaran Depok dan Jakarta Selatan, tapi yang saya tanya hanya yang kira-kira aksesnya enak dari rumah saya yang di Jagakarsa dan rumah Mas Pacar yang di Depok. Nanti artikel ini akan saya update kalau saya ada info baru.
Semoga lancar ya yang sedang merencanakan pernikahan 🙂 Oh iya, yang mau sharing, tanya-tanya, atau ngerekomendasiin sesuatu bisa kontak saya melalui twitter atau instagram ya (@nabilamarsya). Yang mau minta pricelist lengkapnya juga boleh banget kok.

Salam,
Nab

Blogger Favorit 2018

Sejak awal tahun ini saya tiba-tiba menyadari bahwa Instagram itu toxic banget. Akhirnya saya memutuskan untuk uninstall Instagram dan mengalihkan waktu senggang saya ke hal lain, tentunya masih hal-hal yang bisa diakses internet kapan saja. Saya pun kembali bermain di twitter dan kembali baca-baca blog.

Dulu saya pernah dalam masa seneng-senengnya baca blog dan punya beberapa lifestyle blogger yang sering saya kunjungi blognya. Saya tau mereka dari instagram, kemudian ternyata konten blog mereka cukup menarik, cara penyampaiannya pun ringan tapi berisi. Haha pokoknya begitu lah. Saya memang suka kategori lifestyle blogger karena mereka bisa membahas apa saja, beauty, travel, tips-tips, termasuk hal-hal remeh temeh di kehidupan yang bisa membuka sedikit jendela baru di pikiran saya.

Setelah saya buka kembali blog dari lifestyle blogger kesayangan saya itu, kok sekarang sebagian besar sponsered post ya. Yang di posting pun hal-hal yang related dengan kehidupan kelas ‘atas’ which I cannot afford. Seperti jalan-jalan ke luar negri dengan segala kemewahannya, skincare dan makeup mahal, serta hal-hal lain yang tidak bisa saya relate dengan kehidupan saya. Jadi nggak menarik lagi. Saya harus cari ‘sosok baru’. Cielah.

Pencarian dimulai. Dari google. Keyword: lifestyle blogger Indonesia (dan sejenisnya).

Result: gagal total. Karena yang muncul lagi-lagi fashion blogger dan beauty blogger yang sudah terkenal banget. Bukan tipikal yang saya cari.

Kadang saya juga buka dulu blognya, baca dulu satu tulisannya, kalo ngga menarik ya udah saya nggak akan baca tulisan kedua. Milih blogger aja picky yaampun 😅

Tapi ya.. seperti halnya barang, kalo lagi dicari suka nggak ketemu, tapi kalo lagi nggak nyari ya suka tiba-tiba aja gitu ketemu. Akhirnya tahun ini saya ketemu (bukan ketemu secara harafiah ya) beberapa blogger yang beberapa waktu belakangan ini sering saya pantengin tulisannya. Dan surpisingly mereka adalah…… parenting blogger HAHAHA NIKAH AJA BELOM BIL.

Ada beberapa sebenarnya blog yang sering saya baca di 2018, tapi ada dua orang blogger yang saya suka sampai saya follow instagramnya, pantengin instastoriesnya, bahkan sampai kepo suami dan temen-temennya :’) wkwk maafin kekepoan saya ya. Dua blogger ini bisa dibilang cukup saya tunggu update-update tulisannya.

Here they are..

1. Amih Monda (www.namiramonda.wordpress.com)

Jadi pertama tau Amih Monda itu dari Instagram, lupa instagram siapa. Terus liat foto Aurora, cantik banget tapi kok pake NGT, sakit apa ya. Langsung lah jiwa keponya muncul, ternyata dijelasin detail di blognya Amih apa yang terjadi sama Aurora.

Disitu saya ikutan sedih dan tiba-tiba jadi ikutan sayang sama Auro. Jadi nungguin terus update-an Amih mengenai perkembangan Auro.

Dari Auro saya juga belajar banyak, anak sekecil itu aja berjuang loh. Masa saya yang sudah dewasa, dikasih banyak kemudahan, tapi masih banyak mengeluh dan malas berjuang.

Semangat terus ya Amih Monda!

2. Mba Gesi (www.gracemelia.com)

Jadi dulu tuh di twitter ada template “Blogger Favorite” ada yang kategori beauty, tech, lifestyle, dll lupa mana aja. Nah berhubung saya juga masih dalam pencarian blogger yang menarik untuk dibaca jadi saya cek lah satu-satu yang direkomendasiin orang-orang.

Saya lupa postingan Mba Gesi yang mana yang saya baca, tapi menarik. Saya selalu tertarik dengan sudut pandang orang-orang dalam melihat kejadian-kejadian kecil dalam hidup. Saya mulai membaca lebih banyak tulisannya, karena ringan tapi menyenangkan. Tibalah saya ke tulisan Mba Gesi mengenai Ubii, apa yang terjadi pada dirinya dan Ubii.

WOW. Iya, “wow” itu yang terlintas dipikiran saya. This woman is so tough. She made mistakes, but she admit it, she face it, and she take the responsibilities. Saya suka cara Mba Gesi menghadapi masalahnya yang sebenarnya bukan masalah yang sederhana, saya suka sudut pandang Mba Gesi yang nggak hanya melihat hal dari satu sisi. Mba Gesi juga pernah menuliskan “everyone have their own battle” dan saya sangat setuju. Its like its ok to not be strong all the time, but we have to be a great fighter because everyone its fighting too.

Hal lain dari Mba Gesi adalah dia suka menulis hal-hal kecil yang ada di kehidupan dan pemikiran-pemikirannya. Menghibur sekaligus memberi inspirasi, saya seakan sedang melihat suatu hal dari sudut pandang Mba Gesi.

Semangat terus Mba Gesi!

Salam,

Nab

25 Things Before 25

Beberapa waktu yang lalu saya berulang tahun yang ke 24. Lalu saya tiba-tiba ingat dulu waktu usia 20, saat kuliah, saya sempat membuat catatan “25 things before 25”. Jadilah waktu itu liburan saya didedikasikan untuk mencari catatan tersebut for the sake of curiousity dan pengen tau aja apa yg udah tercapai.

Lalu ketemu!

Tapi kalo tetep ditaro di notes, tahun depan saya yakin catatan itu pasti sudah hilang lagi. Jadi saya rasa harus ditulis disini agar menjadi kenangan selamanya *halah*

1. Kerja sebelum lulus kuliah

Alhamdulillah udah tercapai. Pas semester 6 kuliah sambil freelance di Wardah dulu ngurusin event-event. Enjoy banget!

2. Jalan-jalan ke luar negri

Dulu pengen banget jalan-jalan ke luar negri karna emang belum pernah. Kalo sama keluarga kayaknya susah karna biayanya akan mahal banget. Kalo sama temen mesti nabung banget, dan temen-temen pun waktu itu belum pada punya tabungan. Alhamdulillah karna kerja di Zeiss yg head office nya di Singapore, jadi pernah beberapa kali kesana sekarang.

3. Jalan-jalan ke 5 kota di Indo (selain kampung)

Thanks to Zeiss. Sekarang udah ke Makassar, Padang, Banyuwangi, Surabaya, dan Palembang.

4. Solo traveling

Belum pernah, tapi pernah solo business trip ke Makassar, bisa diitung solo traveling gak ya? 😅

5. Bisa bahasa lain selain inggris

Haish belom. Kenapa males banget ya belajar bahasa lain, padahal pas SMA sempet belajar bahasa Jerman, tapi yg diinget cuma perkenalan dasar dan Ich liebe dich. Wkwkwkwk

6. Bikin kue dan roti dengan berhasil

Berhasil! Dua tahun terakhir ini lagi seneng-senengnya masak dan akhirnya bisa bikin kue yg tidak gagal *proud to myself*

7. Bisa nyetir

Yashhhh sekarang udah bisa nyetir mobil manual dan matic. Thanks to Nestle yg membuat saya sangat lancar nyetir mobil manual. Yha kerjanya dulu nyetir keliling Jakarta 😅 *tapi bukan supir loh ya*

8. Pergi ke tempat bersalju

Hmm… ke kawah ijen aja dinginnya udh ga kuat, gimana ke tempat bersalju ya 🤔

9. Bisa menjahit

Beloom.

10. Bisa bikin cerpen yang ditampilkan ke majalahEhe. Dulu sempet seneng-senengnya nulis cerpen, tapi sejak lulus kuliah udah nggak pernah.

11. Snorkeling

Sudah~ thank to Zeiss (again)

12. Beli properti pertama pake uang sendiri

Bismillah ya.

13. Bisa fotografi

Udah beli sih kameranya, tapi belajarnya angot-angotan. Sampe sekarang masih belom bisa.

14. Bisa makeup sendiri

Little little I can lah wkwkwk.

15. Bikin baju sendiri

Boro-boro~ dirumah ada mesin jait tapi dibiarkan teronggok rusak. Semoga tahun depan bisa belajar jait ya.

16. Masuk tv

HAHAHAHAHAHA BELOM LAH. Ini kenapa bisa ada di wishlist sih 😂

17. Bayarin sekeluarga jalan-jalan

Bismillah ya

18. Punya pacar yg awet > 3 tahun

Bismillah ya

19. Bisa nabung 100 juta

Alhamdulillah 😊 *proud to myself again*

20. Nonton bioskop sendirian

UDAH DONG NONTON CRAZY RICH ASIAN SENDIRIAN. Serius deh ini sepele tapi saya bangga banget akhirnya bisa nonton sendirian.

21. Keliling jakarta sendirian

Belooom

22. Candle light dinner di fine dining restoran

Ada kah yg mau ngajak? 😆

23. Nonton konserUdah walaupun konser rock which is ga gue banget. Waktu itu konsernya malem-malem di Ancol, saya pulang kerja langsung kesana, jadi disana saya tidur…. mungkin saya satu-satunya yang bisa tidur saat konser musik rock 😂

24. Conference di luar negri

Dulu pas kuliah sempet ngirim paper untuk conference di Colombo, lolos, tapi nggak jadi kesana karna ngga dapet sponsor dan nggak ada uang

25. Nikah

Hmmmmmmm 1000menit ala Nisa Sabyan.

Masih ada 1 tahun sebelum menuju 25, semoga semakin banyak checklist yang bisa terwujud. Aamiin.

Salam,

Nab

Investasi Rendah Risiko untuk Pemula

Halo! Sebelumnya saya pernah menulis mengenai kenapa belajar keuangan itu penting, yang intinya, musibah atau sesuatu yang tidak diduga itu bisa muncul kapan saja tanpa diperkirakan, alangkah baiknya jika kita sudah mempersiapakan itu dari sisi finasial.

Bagaimana agar secara finasial kita bisa siap? MENABUNG. Dan cara menabung paling benar adalah menyisihkan tabungan di awal, bukan menabung apa yang tersisa di tabungan (trust me, target tabungan tidak akan terkejar jika hanya menunggu apa yang tersisa).

Selama SMA saya menabung di rekening tabungan biasa. Setelah saya hitung-hitung, bunga tabungannya <1% per tahun, itu masih dipotong pajak, belum lagi biaya administrasi 5.000-15.000 per bulan. Nggak rugi banyak sih, tapi kalo didiemin bertahun-tahun ya kalah dong tabungan sama inflasi (gile yah anak SMA udah mikirin inflasi)

Tabungan Berjangka

Akhirnya saat kuliah saya membuka Tapenas di BNI. Ini mebantu banget untuk menabung. Jadi setiap awal bulan secara otomatis saldo saya akan terpotong masuk ke tabungan Tapenas ini dengan nominal yang telah saya tentukan di awal. Jumlah minimal untuk pembukaan rekening adalah 100 ribu dan setoran per bulan minimal 100 ribu (CMIIW).

Tabungan ini tidak bisa diambil sampai jangka waktu yang ditentukan (kalau tidak salah minimal 1 tahun). Plusnya lagi, ini bunganya 4% per tahun, lumayan lebih besar dibanding tabungan biasa. Selain itu, jika saya punya extra pemasukan (biasanya kalau saya dapat honor freelance), saya bisa transfer berapapun ke tabungan Tapenas saya. Setelah jangka waktu yang ditentukan, uang di  tabungan Tapenas akan otomatis di transfer ke rekening utama.

FYI, yang mepunyai tabungan sejenis ini bukan hanya BNI, banyak bank lain yang mempunyai produk serupa. Info lbih lanjut bisa lihat disini atau di website bank masing-masing.

Deposito

Ketika sudah mulai bekerja, tidak terasa Tapenas saya sudah mencapai jumlah yang lumayan. Saya ingin mencoba membuka Deposito, mengingat suku bunganya lebih besar dibanding Tapenas. Untuk Deposito BNI dengan masa penyimpanan 3 bulan bunganya 5.5% per tahun dengan potongan pajak 20% (update November 2018).

Kenapa tidak dari dulu bukanya deposito? Karena Deposito BNI minimal setoran 10 juta, saat kuliah uangnya tidak sampai segitu. Selain itu, di Deposito tidak bisa autodebit ditambahkan setiap bulan.

Alasan saya memilih Deposito dibanding Tapenas, selain karena bunganya sedikit lebih tinggi, juga karena Deposito lebih flexible jika ingin dicairkan. Jika dalam kondisi urgent, Deposito lebih mudah dicairkan dibanding Tapenas.

Apakah setelah membuka Deposito saya menutup account Tapenas? Tentu tidak, saya butuh menabung yang otomatis autodebit setiap bulan.. hehe.

Obligasi

Seiring dengan bertambahnya informasi mengenai finansial (aka sejak kenal Jouska), saya juga semakin tahu bahwa banyak jenis investasi lain yang sebenarnya aman dan return-nya lumayan.

Obligasi merupakan surat utang jangka menengah panjang yang dapat dipindahtangankan, berisi janji dari pihak yang menerbitkan untuk memberi imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada waktu yang telah ditentukan kepada pihak pembeli. (IDX, 2018)

Atau lebih lengkapnya bisa baca disini.

Singkatnya, obligasi itu kita memberi pinjaman ke suatu badan (bisa pemerintah, swasta, atau perusahaan), nanti sesuai waktu yang ditentukan uang itu akan dikembalikan, nah karena kita udah minjemin uang modal badan tersebut, nanti kita akan diberi imbalan (berapa persen dari jumlah yang kita pinjamkan) yang dibayarkannya bisa sebulan sekali atau sesuai waktu yang ditentukan juga. Imbalannya itu nanti akan terpotong pajak 15%, sedikit lebih kecil dari deposito.

Jenis obligasi ini banyak sekali. Ada obligasi korporasi, sukuk, ORI, Saving Bond Retail, dan lain-lain. Di website kemenkeu banyak penjelasannya. Saya belum bisa menjelaskan lebih detail karena takut salah penyampaiannya. Tapi saya bisa kasih contoh salah satu obligasi yang saya beli, yaitu Saving Bond Retail (SBR)

SBR004 (ada “004” karena sudah yang ke-4)

SBR004 adalah Surat Utang Negara yang dijual kepada individu, tapi tidak bisa diperdagangkan di pasar sekunder. Berikut detailnya:

  • Tenor: 2 tahun
  • Tanggal penawaran: 20/08/18 – 13/09/18 (iya, hanya bisa dibeli di waktu yang ditentukan, saat masa penawaran)
  • Minimal pemesanan: 1 juta
  • Maksimal pemesanan: 3M
  • Kupon: 8.05% gross/tahun
  • Hasil kupon akan dikirim ke rekening utama setiap tanggal 20 setiap bulan
  • Sistem kupon: akan bertambah seiring kenaikan BI Rate, namun tidak akan lebih kecil dari 8.05%
    • BI Rate: 5.5%
    • Premium kupon: 2.55%
    • Ilustrasi: Kalau BI Rate naik jadi 6.5%, maka kupon yang diterima (6.5+2.55) 9.05%. Kalau BI Rate turunjadi 4.5%, maka kupon tetap 8.05%

Sudah jelas kah?

Ohiya, SBR004 ini udah nggak bisa ya. Kalau mau info mengenai Obligasi pemerintah lainnya, bisa di cek di website kemenkeu kok. Atau pantengin info dari Jouska juga bisa.. hehe.

Reksadana

Nah sekarang ganti pembahasan. Masih ketika bekerja, saya mengalami guncangan finansial yang membuat saya merasa saya harus lebih banyak belajar mengenai investasi dan finansial. Kemudian saya mengenal berbagai macam produk investasi selain Deposito, seperti Emas, Mata Uang, Reksadana, Obligasi, hingga Saham. Emas dan Mata Uang sudah sering saya dengar sih, tapi kok rasanya saya kurang sreg ya dapat keuntungannya pas Rupiah lagi melemah.

Sebenarnya saya tertarik banget untuk investasi Saham, tapi belum ngerti 😦 (dan sepertinya saya terlalu sibuk malas untuk belajar)

Akhirnya setelah baca-baca lagi, saya penasaran dengan sesuatu yang lebih berisiko tapi nggak berisiko-berisiko amat juga (ini maunya apa sih sebenernya.. haha).

Jadi  menurut Undang-Undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995, pasal 1 ayat (27), reksadana ini adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi.

Lebih jelasnya, reksadana ini adalah sarana investasi untuk orang yang modalnya kecil dan belum terlalu mengerti mengenai investasi, karena nanti uang yang kita investasikan akan diatur oleh manajer investasi, bisa sebagian ke obligasi, ke mata uang, ke saham, dll. Nah diaturnya kemana aja nih sama si manajer investasi? Kita bisa pilih jenis-jenis reksadananya. Itu juga akan menentukan besar risiko dan besar return-nya. Tentunya secara teori, jika kita ingin return yang lebih besar, harus berani untuk mengambil risiko yang lebih besar juga.

Ini jenis-jenis reksadana (sumber IDX):

Reksadana Pasar Uang

Dana diinvestasikan ke instrumen pasar uang seperti obligasi atau deposito yang jatuh temponya kurang dari satu tahun. Jadi cenderung rendah risiko.

Reksadana Pendapatan Tetap

Dana diinvestasikan minimal 80% ke obligasi (bisa surat utang negara atau surat utang perusahaan) yang jatuh temponya lebih dari setahun. Risiko lebih tinggi dibanding reksadana pasar uang tapi masih rendah risiko.

Reksadana Campuran

Dana diinvestasikan dalam berbagai jenis, campuran antara pasar uang, obligasi, dan saham. Risiko sedang.

Reksadana Saham

Dana diinvestasikan minimal 80% ke saham. Risiko jenis ini paling tinggi diantara yang lain, namun kemungkinan return-nya pun paling tinggi.

Apa saja sih produk reksadana yang ada di Indonesia? Saya biasa lihat di Infovesta untuk jenis-jenis produk reksadana dan performanya. Saya sendiri buka reksadana campuran. Alasannya cukup tidak berdasar sebenarnya, karena saya ingin sebuah investasi yang ada risikonya tapi tidak mau terlalu berisiko.

Oh iya, saya ada tips untuk meminimalisasi risiko ketika berinvestasi di reksadana. Tips tersebut saya dapat dari buku Prita Ghozie yang berjudul “Cantik, Gaya, dan Tetap Kaya”. Caranya adalah: mencicil investasi. Jadi, karena harga unit reksadana tiap bulan berubah-ubah, instead of kita membeli unit di satu waktu dalam jumlah besar, ada baiknya kita mencicil per bulan pembelian unitnya.

Begini ilustrasinya:

Beli reksadana di bulan Januari, saat bulan Agustus butuh uang untuk mencairkan

Beli sekali waktu

Setor
Bulan Jumlah Pembelian NAB/unit Unit
January  IDR             8,000,000.00  IDR        3,245.00 2465.33
Mencairkan
Bulan Jumlah Unit NAB/unit Jumlah uang
September 2465.33  IDR        3,023.00  IDR  7,452,692.59

Mencicil Reksadana

Setor
Bulan Jumlah Pembelian NAB/unit Unit
January  IDR             1,000,000.00  IDR        3,245.00 308.17
February  IDR             1,000,000.00  IDR        3,300.00 303.03
March  IDR             1,000,000.00  IDR        3,401.00 294.03
April  IDR             1,000,000.00  IDR        3,211.00 311.43
May  IDR             1,000,000.00  IDR        3,123.00 320.20
June  IDR             1,000,000.00  IDR        3,034.00 329.60
July  IDR             1,000,000.00  IDR        3,110.00 321.54
August  IDR             1,000,000.00  IDR        3,044.00 328.52
TOTAL  IDR             8,000,000.00 2516.52
Mencairkan
Bulan Jumlah Unit NAB/unit Jumlah uang
September 2516.52  IDR        3,023.00  IDR  7,607,439.96

Dari ilustrasi di atas, mencicil reksadana dapat mengurangi kerugian sekitar 150 ribu. Lumayan kan 🙂

Sekian dulu informasi mengenai investasi rendah risiko untuk pemula. Ini hanya berdasarkan pengalaman pribadi saya. Feel free to ask or discuss yaa 🙂

Semoga bermanfaat!

Salam,

Nab

Wedding Song Ala Nabila

In a quiet Friday night, suddenly random thought just appear. Tiba-tiba saya mikirin untuk ngelist wedding song apa aja yang mau saya tampilkan di pernikahan Saya. Padahal berencana nikah aja belom.

Okey.

Gapapa tulis dulu aja. Siapa tau kepake.

Sip.

  1. Kahitna – Menikahimu
  2. Peabo Bryson and Regina Belle – A Whole New World
  3. Maliq and D’Essentials – Pilihan ku
  4. John Legend – All of Me
  5. Mandy Moore & Zachary Levi – I See The Light
  6. David Choi – By My Side
  7. Westlife – Beautiful in White
  8. Brian McKnight – Marry Your Daughter
  9. Yovie & Nuno – Janji Suci
  10. Emma Thomson – Beauty and the Beast
  11. Christina Perri – A Thousand Years
  12. Glenn Fredly – You Are My Everything
  13. Club Eighties – Dari Hati
  14. Adera – Lebih Indah
  15. Payung Teduh – Akad
  16. Glenn Fredly – Kisah Romantis
  17. Calum Scott – You are the Reason
  18. John Legend – All of Me
  19. Ed Sheeran – Perfect
  20. Christian Bautista – The Way You Look at Me

Yas 20 wedding song versi saya. Mungkin nanti bisa ditambah kalo tiba-tiba saya dapet inspirasi. Kalo ada yang mau nambahin atau ngasi ide boleh banget HEHEHE.

Jadi…

Kapan emang nikahnya?

Nanti kalo udah siap. Sekarang belum 🙂

Curhat #1: Bekerja Sebagai Medical Representative

Tentang pekerjaan.

Saat kuliah, saya sering berpikir “nanti kalo udah kerja gimana ya..” bayanganku ketika itu adalah perempuan-perempuan berpakaian modis -baju formal, celana bahan, high heels- berjalan sambil mengalungkan ID card di gedung perkantoran, mengerjakan pekerjaannya di depan laptop di cubicle masing-masing, bertemu klien di cafe, meeting secara formal di sebuah ruang meeting, dan hal-hal lain yang biasa saya lihat di film-film.

Lalu tibalah saya memasuki dunia kerja sungguhan..

KEMUDIAN BAYANGAN ITU AMBYAR PEMIRSA.

Pekerjaan pertama saya adalah seorang medical representative di sebuah Perusahaan Multinasional di bidang FMCG. Saat itu saya masih clueless apa itu medical representative (di perusahaan tempat saya bekerja namanya Medical Delegate). Melihat job description nya, hmm.. visit dan approach healthcare professional agar merekomendasikan produk yang kita bawa, presentasi di healthcare institution, menyelenggarakan medical event, market visit, wah terdengar sangat menarik! Apa lagi, di perusahaan tempatku bekerja, karyawan di provide mobil untuk bermobilisasi dari satu tempat ke tempat lainnya.

Satu hal yang belum sempat saya pikirkan ketika bekerja di perusahaan itu: pekerjaan saya 90% di lapangan. Berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Sendirian. Membuat plan sendiri, kunjungan sendiri, makan siang sendiri, dan mengatasi masalah sendiri. Ke kantor hanya untuk mengurus administrasi atau meeting yang mungkin hanya 2-3 kali dalam sebulan. Benar-benar bukan pekerjaan yang saya bayangkan sebelumnya. Jam kerja pun tidak menentu, kadang bisa berangkat sangat pagi, kadang bisa berangkat lebih siang, kadang bisa pulang lebih sore, kadang pula bisa pulang lebih larut. Apakah sulit beradaptasi dengan pekerjaan ini? Tentu. Saya rasa semua pekerjaan memiliki challenge masing-masing dan semua orang pasti butuh penyesuaian.

Saya tidak bisa bilang pekerjaan lapangan lebih sulit dari pekerjaan kantoran, begitu pula sebaliknya. Tapi bagi sebagian orang yang terbiasa melihat karyawan kantoran yang berangkat pagi pulang malam, di kantor, dan dengan jadwal yang sama setiap harinya, mungkin pekerjaan lapangan ini agak terlihat tidak biasa, padahal banyak lho orang yang bekerja mobile seperti ini. Saya kerap mendapat pertanyaan dari tetangga dan orang sekitar saya

“Jam segini kok belum berangkat?”

“Kok pulangnya sore/malam banget?”

“Saya dijalan tadi ketemu Nabila, kok dia nggak di kantor?”

“Suami saya kerja di gedung X juga, kok jarang ketemu Nabila ya?”.

Kadang kesal harus terus menjelaskan bahwa tidak semua pekerjaan harus stay di kantor. Banyak lho orang yang bekerja secara mobile.

Bekerja mobile sebagai medical representative memiliki berbagai suka dan duka. Sukanya,  bertemu orang baru setiap hari (untuk orang yang senang bertemu orang baru, tentu ini hal yang menyenangkan), bisa sharing dengan orang-orang yang berada di dunia kesehatan (lumayan kan update ilmu), jam kerja yang flexible, dan rutinitas yang tentu tidak membosankan. Dan satu lagi, karena tidak kerja di kantor setiap hari, jadi tidak perlu bertemu bos setiap hari (menurut beberapa teman yang kerja kantoran, bertemu bos setiap hari merupakan sebuah ‘tantangan’ yang cukup sulit, terlebih apabila sang bos sedang dalam mood yang kurang baik)

Di sisi lain, menurut saya banyak juga duka dan tantangan yang saya hadapi, harus menghadapi kemacetan di Jakarta yang tak ada habis-habisnya, harus melakukan semuanya sendiri (handling problem, buat planning, sampai makan pun sendiri), harus siap dinamis dan siap dengan segala perubahan rencana yang datang mendadak, terlalu flexible (sehingga terkadang sulit menentukan prioritas pekerjaan dan apa yang harus dilakukan), dan karena inti dari pekerjaan ini adalah marketing dan sales, jadi harus siap juga di kejar-kejar target setiap bulannya.

Sering rasanya ingin menyerah. Tak jarang pula saya mendambakan pekerjaan kantoran yang mobilisasinya tidak setinggi ini dan jam kerjanya lebih jelas. Namun setiap pikiran itu terlintas, saya selalu berkata pada diri saya “Kalau lo menyerah, artinya lo kalah. Lo nggak mau berjuang melawan diri lo sendiri. Semua pekerjaan punya challenge-nya masing-masing. Di luar sana banyak yang menginginkan posisi lo”.

Saya bersyukur memiliki banyak supporting system yang selalu mendukung dan menguatkan saya.

  • Tim yang solid. Walaupun masing-masing orang meng-handle areanya sendiri,  setiap wilayah meiliki tim-nya masing-masing, saya masuk Tim Jakarta (Saya pegang area Jakarta Selatan). Di tim ini saya adalah anak termuda, baik dari segi usia maupun pengalaman, namun tidak pernah ada senioritas di tim ini, bahkan mereka sangat membantu saya ketika saya kesulitan dan tidak pelit dalam berbagi ilmu. Selain itu, mereka juga alasan saya tetap ‘waras’ saat dibawah tekanan dan tuntutan yang berlebihan.
  • Bos yang baik. Memiliki bos yang baik adalah anugerah dalam pekerjaan. Alhamdulillah saya mendapatkan anugerah tersebut. Direct supervisor saya sangat baik, helpful, dan pengertian. Beliau pembimbing yang baik, mau mendengarkan bawahannya, dan tak segan membantu bawahannya bila sedang dalam kesulitan.
  • Teman seperjuangan. Mereka adalah teman seangkatan saya ketika recruitment, bagi saya, mereka seperti keluarga di kantor, teman curhat suka duka dalam pekerjaan. Menurut saya, sebagai anak lapangan yang 90% bekerja sendirian, teman tempat berkeluh kesah sangatlah penting.

Di luar ke-struggle-an yang saya alami, tantangan yang saya hadapi, dan berbagai lika-liku bekerja sebagai medical representative, ternyata banyak hal yang saya dapatkan dari pekerjaan ini (selain gaji tentunya).

  • Belajar manage waktu. Pekerjaan yang mobile dengan segala tuntutan yang ada membuat saya lebih bisa memanage waktu, membuat skala prioritas, dan mebuat planning yang efektif.
  • Menyelesaikan masalah. Pergi ke banyak tempat dan bertemu banyak orang dalam sehari tentunya akan menimbulkan berbagai masalah, apalagi bila keinginan customer tidak sesuai dengan keinginan perusahaan. Sebagai perantara antara perusahaan dan customer, saya harus mencari cara agar menemukan win win solution, agar customer tetap puas tanpa menyalahi aturan perusahaan.
  • Kemampuan bernegosiasi. Berkaitan dengan poin di atas, selain mencari solusi dari tiap masalah, kemampuan bernegosiasi pun terus terasah demi mencari win win solution.
  • Kemampuan berkomunikasi. Customer yang saya temui berada di berbagai kalangan, dari mulai bidan, perawat, dokter umum, dokter spesialis, sampai direktur rumah sakit. Tentu cara komunikasi dan pendekatan yang digunakan pun berbeda.
  • Kemamuan menyetir dan mengingat jalan. HELL YEAH. Saat kuliah saya bisa dibilang anak yang semi buta arah dengan kemampuan menyetir yang buruk. Ya wong nggak pernah kemana-mana, rumah pun dekat dari kampus. Tapi karena pekerjaan ini, saya bisa menyetir lancar di berbagai kondisi, mengingat jalan di Jakarta Selatan, dan tau rute tercepat kemanapun saya ingin pergi (di Jakarta Selatan tentunya).

Begitulah kurang lebih curhatan saya setelah kurang lebih satu tahun menjadi medical representative. Akhir kata, medical representative menurut saya adalah pekerjaan yang menarik dan cukup challenging bagi saya, tapi sangat cocok untuk orang yang dinamis dan suka bekerja flexible.

Feel free ya jika ada yang ingin diskusi atau bertanya 😀

Salam,

N. Marsya

Kenapa Belajar Keuangan Itu Penting

Gue mahasiswa Gizi, pas SMA nggak suka pelajaran IPS (termasuk Ekonomi), dari kecil nggak pernah familiar dengan hal-hal yang berbau keuangan, cuma diajarin untuk selalu menabung & jangan boros-boros. And it works well (I think). Dari mulai SMP gue udah dikasih uang jajan mingguan, terus gue rutin nabung dan itu konsisten sampe kuliah. Saat udah jadi mahasiswa, keinginan gue semakin aneh-aneh, mulai ngenal shopping sama temen, belanja make up, jajan-jajan cantik, dan lain-lain. Tapi hal itu juga belum membuat gue merasa ‘bermasalah’ keuangannya, karena disamping gue spending money yang lebih besar, gue juga mengimbanginya dengan kerja sambilan dimana-mana, artinya earningnya juga nambah. Dari situlah gue mengenal konsep “Spend less or earn more”.

Awalnya, gue merasa harus belajar keuangan adalah di pertengahan 2017, di Instagram, gue nggak sengaja nemu account @Jouska_id (waktu itu Jouska belum se-hits sekarang). Disitu gue menemukan banyak banget orang dengan middle to high income, ternyata nggak bisa ngatur keuangan mereka. Gue merasa gue harus belajar biar nggak terjebak kayak orang-orang yang diceritain Jouska. Tapi di sisi lain gue masih merasa hidup gue fine-fine aja. Waktu itu gue masih kerja di Multinasional FMCG, gaji lumayan, Ayah masih kerja & berpenghasilan lumayan juga, mobil di rumah ada 3, lalu gue jadi takabur. Dan takabur itu tidak baik guys, ingat roda berputar.

Kemudian… titik balik hidup gue terjadi. Ayah kena stroke. Parah. Itu mengubah hidup gue banget. Gue sekarang mau highlight masalah keuangannya aja sih. Saat itu timingnya berbarengan banget dengan gue resign dan mau pindah kerja. Lalu gue mengetahui fakta bahwa keluarga gue keuangannya tidak fine. Ayah punya 6 kartu kredit yang hutangnya mencapai 3 digit, dan kebanyakan KTA. GUE MAU NANGIS (enggak, saat itu gue nangis beneran, bukan cuma mau nangis). Tapi gue harus kuat karna gue anak sulung & Ibu gue udah cukup stress karna Ayah sakit. Akhirnya gue menawarkan diri untuk ngurusin semua urusan keuangan, dan Ibu focus aja ngurusin Ayah. Waktu itu bahkan gue nggak tau cara bayar Kartu Kredit & cara ngecek tagihannya. Dan waktu itu gue udah terlalu pusing untuk googling. Jadi gue datengin bank tempat Kartu Kredit Ayah, dan gue nanya-nanya tagihannya gimana, cara bayarnya, kalo mau dilunasin gimana, kalo mau nutup gimana, bawel lah pokoknya. Untung customer service bank baik-baik, walaupun ada yang nggak helpful juga sih.

Setelah gue bias berpikir dengan lebih jernih, beberapa ketakutan gue ternyata ada jawabannya. Dan untuk yang mengalami kejadian sam seperti gue (semoga jangan ada ya):

Gue takut Ayah di PHK dari pekerjaannya, nanti asuransi kesehatannya gimana, nanti bayar tagihannya gimana, nanti hidup sehari-hari uangnya dari mana. TENANG GUYS. Jadi menurut Pasal 153 ayat 1 huruf a UU No.13/2003, perusahaan tidak bisa melakukan PHK dengan alasan pekerja berhalangan masuk kerja karena sakit menurut keterangan dokter selama waktu tidak melampaui 12 bulan secara terus-menerus. Tapi gajinya berkurang ya setiap 3 bulan. Setidaknya satu ketakutan gue sudah terlewati.

Hutang kartu kredit Ayah gimanaaaaa. CALM DOWN. Buka berkas-berkas surat berharga Ayah, cari polis asuransi, bisa asuransi kartu kredit atau asuransi lainnya. Kalau nggak ketemu, coba liat rincian tagihan kartu kreditnya, apakah ada pembayaran ke asuransi/sejenisnya nggak. Kalau ada, SEGERA URUS. Jangan ditunda-tunda. Agak ribet sih ngurusnya, tapi worth it kok untuk diperjuangkan. Di post sebelumnya gue udah pernah share proses klaim asuransi kartu kredit BNI dan Citibank.

Untuk hidup selanjutnya gimana. Ya ubah gaya hidup. Atur keuangannya. Me: jual mobil, kurangin ngemall ga jelas, atur keuangan, budgetin tiap mau ngapa-ngapain. Tapi ini juga masih harus benahin segalanya sih

OK BACK TO KENAPA HARUS BELAJAR MANAGE UANG. Ya biar kalo ada kejadian yang tidak diinginkan nggak pusing-pusing amat. Gue mulai baca-baca di internet, tapi karna awalnya nggak ada gambaran, gue jadi lost gitu di internet, kayak nggak tau arahnya kemana, apa yang gue mau pelajarin, dan lain sebagainya.

Akhirnya, karna gue anaknya lumayan text book, gue beli lah sebuah buku.

Hasil gambar untuk buku prita ghozieSource: Google

Ini bukunya. Mudah dimengerti untuk orang awam seperti gue, cukup lengkap, dan overall sih gue suka. hehehe.

Banyak banget penjelasan di buku ini, tapi ada 3 poin yang menurut gue sangat penting.

Ketahui pengeluaran sehari-hari abis dimana. Kalo nggak tahu pengeluarannya abis kemana, gimana mau berhemat? gimana mau nabung? gimana bisa tau itu uang abisnya kemana? Kalo gue sendiri, ternyata: makan diluar dan ngemall nggak jelas. ‘Cuma’ beli ch*time sih, ‘cuma’ beli lipstick sih, ‘cuma’ beli kopi sih. TAPI TERNYATA BANYAK COYYYYY HUHUHU.

Investasi. Prinsip “Spend less or earn more” itu bener banget sebenernya. Tapi dalam kondisi gue, sehari udah kerja >8 jam, Sabtu/Minggu kadang kerja juga, kalaupun nggak kerja maunya istirahat/refreshing biar tetep waras (dan itu artinya spend more). KAPAN EARN MORE NYA? Nabung mulu juga kalah sama inflasi, deposito bunganya paling 5%/tahun. Nggak nyukupin. Mau nggak mau harus belajar investasi. Di buku yang gue baca itu banyak kok ngebahas soal investasi. Sekarang ini yang gue coba adalah Reksadana. Kenapa reksadana? Nanti mungkin akan gue tulis terpisah.

Dana darurat is a must! Investasi penting, punya asset penting, tapi dana darurat nggak boleh dilupain. Biar kalau ada kejadian-kejadian yang tidak diinginkan (in my case Ayah tiba-tiba sakit parah) nggak terlalu pusing mikirin uang.

Akhir kata…

Hasil gambar untuk quotes about moneySource: Google

Pengalaman Klaim Citibank Credit Shield

Halo semuanya!

Kali ini saya akan sharing kembali mengenai pengalaman klaim asuransi kartu kredit. Seperti yang telah diceritakan di tulisan sebelumnya, Ayah saya yang terkena stroke memiliki banyak kartu kredit, dan beberapa diantaranya dilengkapi fitur asuransi didalamnya. Sebelumnya saya telah menceritakan betapa rumitnya proses klaim asuransi BNI Perisai Plus (walaupun at the end prosesnya bisa beres dengan kegigihan), kali ini saya ingin menceritakan pengalaman klaim Citibank Credit Shield.

Untuk asuransi ini, Citibank bekerja sama dengan Prudential, sehingga proses klaim dilakukan ke Prudential dengan Citibank sebagai perantara. Berbeda dengan proses klaim asuransi sebelumnya, proses klaim Citibank Credit Shield berjalan sangat lancar tanpa drama dan air mata, selancar jalanan di Jakarta saat Idul Fitri~

Berhubung kejadiannya sudah cukup lama, mungkin saya tidak bisa menceritakannya dengan detail, karena sebagian sudah lupa.. hehe

Awal November

I actually have no idea harus mulai dari mana, saat itu hanya bermodal lembar tagihan yang dikirim ke email Ayah, tanpa tahu apapun mengenai kartu kredit. Tapi dari tagihan tersebut, saya melihat setiap bulan Ayah melakukan pembayaran Citibank Credit Shield, yang jika saya cari di google adalah sebuah asuransi. Saya sempat menelpon customer service citibank (unfortunately I forget the number because I google it) , tapi yang mengangkat adalah operator yang memberi informasi tagihan dan tidak ada pilihan berbicara dengan customer service, akhirnya dengan segala kesotoyan saya datang ke kantor citibank terdekat, yaitu di South Quarter TB Simatupang yang kebetulan satu gedung dengan kantor Ayah. Ketika sampai disana, ternyata receptionist tidak mengijinkan saya untuk bertemu customer service, katanya jika ingin bertemu customer service, harus janjian dulu via telp, saya juga diberikan sebuah kartu nama yang berisi 2 nomor telp (unfortunately I miss the card and the number again).

Keesokan harinya, saya coba telp ke nomor yang diberikan, tapi nomor 1 tidak dapat dihubungi, dan nomor 2 mengatakan bahwa itu adalah nomor untuk kartu kredit yang sudah tidak aktif, sehingga tidak bisa membantu. Saya diberi nomor lain untuk dihubungi, tapi ternyata itu adalah nomor operator dan tidak dapat berbicara dengan customer service untuk membuat janji.

Keesokan harinya, nomor 1 tetap tidak dapat dihubungi, dan nomor 2 keukeh bahwa itu bukan bagiannya dan tidak dapat membantu. Kemudian saya nangis. Iya, nangis. Saat itu saya benar-benar stress, masih dalam duka karena Ayah kritis, masih shock karena ternyata Ayah punya banyak hutang, masih pusing karena proses klaim Asuransi BNI yang dipersulit, dan masih stress karena banyak kerjaan saya yang terbengkalai karena semua masalah ini. Mungkin itu, customer service di nomor 1 kasihan dengan saya, sehingga saya dipersilahkan datang ke kantor Citibank untuk bertemu customer service.

Beberapa hari berikutnya, saya izin pulang cepat dari kantor untuk ke kantor Citibank, saya sampai Citibank cabang South Quarter jam 14.50, dan ternyata mereka sudah tutup jam 15.00 sehingga tidak bisa dilayani, saya disarankan datang pagi-pagi sekitar jam 09.00.

Keesokan harinya, saya datang ke Citibank tepat jam 09.00, bertemu customer service bernama Mba Syila. Saya membawa lembar tagihan dan ktp Ayah. Disana, Mba Syila memberikan penjelasan dengan sangat baik. Ia menjelaskan bahwa asuransi yang dimiliki ayahku ada 2 jenis, yaitu Citibak Credit Shield dan Credit Shield Plus, keduanya dikelola oleh Prudential, jadi Citibank hanya menjadi pihak perantara. Dalam case Ayahku (terkena penyakit kritis), asuransi yang bisa di klaim adalah Credit Shield Plus, dengan pertanggungan 100% hutang dibayarkan kepada Citibank plus 100% hutang dibayarkan ke nasabah. Mba Syila berjanji akan mengirimkan polis, sertifikat, dan list dokumen yang harus dilengkapi untuk proses klaim asuransi ini. Mba Syila juga memberikan nomor ext nya, sehingga jika ingin follow up, bisa langsung ke Mba Syila. Sangat helpful! 🙂

Satu Minggu Kemudian

Dokumen dari Citibank sampai ke rumah. W o w. Cepat sekali, padahal saya tidak berekspektasi responnya akan secepat ini. Citibank juga memberi surat berisi list dokumen yang harus dilengkapi, kemana harus mengirim dokumen, dan kemana harus follow up. Sangat jelas. Sehari setelah dokumen sampai, Mba Syila menelpon untuk mengkonfirmasi apakah dokumen sudah diterima dan apa ada pertanyaan seputar dokumen tersebut. Saya menanyakan beberapa pertanyaan tentang hal yang belum jelas, dan Mba Syila juga menjawab dengan jelas. Such a good service.

Satu Minggu Kemudian

Dokumen sudah lengkap dan siap dikirim. Beberapa hari setelah dokumen dikirim, saya menghubungi Mba Syila untuk menanyakan kembali, sudah sampai mana prosesnya, kapan saya harus follow up, dan harus follow up kemana. Mba Syila mengatakan bahwa dokumennya sudah dikirim ke Prudential oleh Citibank, sehingga selanjutnya saya bisa follow up langsung ke Prudential. Biasanya prosesnya kurang lebih 14 hari. Jadi saya disarankan meneghubungi Prudential setelah 14 hari.

Dua Minggu Kemudian

Saya menghubungi Prudential, menanyakan sudah sampai mana proses klaimnya. Customer service prudential hanya meminta nomor polis Ayah dan kontak ku yang bisa dihubungi untuk memberi informasi progress klaimnya. Sempat agak kesal sebenarnya, karena tidak dapat kepastian, tapi ya sudah lah, karena sudah pernah mengurus asuransi yang lebih rumit dari ini saya pasrah saja, tidak berharap banyak.

Beberapa Hari Kemudian

Agak kesal karena pihak Prudential tidak menghubungi seperti yang dijanjikan. Namun kekesalan itu tiba-tiba sirna ketika melihat rekening Ayah, asuransinya sudah cair. That’s so fast! Bahagia sekali rasanya. Prosesnya benar-benar smooth, pelayanannya baik, customer service sangat helpful. I’m a happy Customer.

Kesimpulannya: Tidak semua asuransi itu makan hati dan tenaga saat proses Klaim. Beberapa bank & asuransi benar-benar helpful dan tidak menyusahkan nasabah 🙂

Pengalaman Klaim Asuransi BNI Perisai Plus

Halo! Sudah cukup lama aku tidak menulis. Dan kali ini, aku ingin sharing sekaligus curcol sedikit. Beberapa bulan yang lalu, tepatnya pertengahan Oktober, Ayahku terkena serangan stroke. Awalnya serangan yang terjadi tidak terlalu parah (beliau hanya kehilangan sebagian memorinya dan menjadi lebih linglung), namun setelah di MRI, terdapat 3 sumbatan di otak kirinya, sehingga beliau harus dirawat di rumah sakit, tepatnya di stroke unit. Namun, musibah yang lebih besar terjadi beberapa hari kemudian, Ayah mengalami serangan kedua yang menyebabkan beliau kehilangan kesadaran dan tidak dapat menggerakkan setengah bagian tubuhnya (sebelah kanan). Keluargaku sangat terpukul karena kejadian tersebut. Namun life must go on. Aku pun membagi tugas dengan ibuku, Ibu akan fokus menjaga Ayah di RS, sedangkan aku tetap bekerja sambil mengurus urusan rumah tangga (termasuk mengelola keuangan dan tagihan-tagihan). Disitulah hal yang cukup mengejutkan terungkap, ternyata ayahku memiliki beberapa kartu kredit dengan tagihan yang cukup banyak -hal yang sebelumnya tidak pernah kuketahui-.

Singkat cerita, aku pun mencari tahu segala hal mengenai kartu kredit yang dimiliki oleh Ayahku -yang prosesnya sejujurnya cukup rumit, karena ternyata beberapa bank kurang helpful, apalagi sebelumnya aku tidak pernah berurusan dengan kartu kredit dan segala hal yang berhubungan dengan itu-. Setelah menelpon call center, mendatangi customer service, dan melihat berkas-berkas simpanan Ayah, ternyata beberapa kartu kredit Ayah memiliki asuransi, salah satunya kartu kredit BNI Mastergold.

Masuk ke inti dari tulisan ini, kali ini aku ingin share pengalamanku dalam mengurus asuransi BNI Perisai Plus. Bagi yang belum tahu, BNI Perisai Plus merupakan asuransi yang terdapat di kartu kredit BNI, yaitu sebuah perlindungan ketika pemilik kartu kredit mengalami musibah seperti meninggal, cacat sementara, cacat total, ataupun penyakit kritis (ada 40 jenis penyakit kritis).

Awalnya aku mengetahui adanya asuransi ini dari Sertifikat Polis yang ada pada tumpukan dokumen milik Ayah. Saat itu aku cukup clueless karena sebenarnya tidak terlalu paham dengan bahasa yang ada pada polis, jadi kuputuskan untuk datang langsung ke bank BNI dan bertanya langsung dengan customer servicenya, dengan harapan akan mendapat penjelasan yang lebih clear. Kebetulan hari itu adalah hari Sabtu, jadi aku mencari bank BNI yang buka di hari Sabtu, akhirnya aku pergi ke BNI Cabang Senayan City.

04/11/2017

Aku pergi ke BNI cabang Senayan City, bertemu dengan Customer Service dengan membawa kartu kredit, lembar penagihan, dan sertifikat polis Perisai Plus untuk bertanya lebih lanjut mengenai asuransi tersebut. Jawabannya cukup mengecewakan “Oh maaf kalau bagian kartu kredit bukan disini.. silahkan mbak telpon ke 1500046”. Karena sudah terlanjur jauh-jauh datang, aku minta mbak CS untuk menyambungkan ke bagian kartu kredit. Di telpon, aku di oper-oper ke beberapa bagian, hingga akhirnya berbicara dengan Bapak Kemal. Aku menjelaskan kondisi kesehatan Ayah saya secara detil, Bapak Kemal mengatakan yang dapat aku klaim adalah klaim untuk kondisi “cacat sementara”, dan proses tersebut baru bisa dilakukan setelah 3 bulan Ayahku sakit, jumlahnya pun tidak banyak. Awalnya aku tidak mengerti mengapa kasus Ayahku tidak dimasukkan ke kondisi “critical illness”, lalu aku bertanya dan membacakan poin kondisi “critical illness” yang ada pada sertifikat polis, baru lah beliau mengatakan bisa klaim untuk kondisi “criticall illness”(yang jumlahnya lebih besar dibanding kondisi “cacat sementara”). Untuk melakukan klaim “critical illness” ini, ternyata dokumen maksimal masuk 60 hari setelah penyakit didiagnosis.

Kemudian Bapak Kemal menjelaskan proses klaimnya. Dokumen yang diperlukan adalah resume medis, surat pernyataan dari istri, ktp istri, ktp nasabah, dan tagihan 2 bulan terakhir (aku sudah konfirmasi ulang dokumennya). Dokumen tersebut dikirim ke bnicall@bni.co.id, dan  di follow up ke 1500046 setelah 3 hari dokumen di kirim. Proses pencairan paling lama memakan waktu 30 hari.

16/11/2017

Dokumen aku kirim via email ke bnicall@bni.co.id. Dokumen yang aku kirim adalah resume medis, surat pernyataan dari istri, ktp istri, ktp nasabah, tagihan 2 bulan terakhir, kartu keluarga, invoice rawat inap di RS, dan sertifikat BNI Perisai Plus (entah mengapa aku berinisiatif menambahkan beberapa dokumen, hasil googling pengalaman orang klaim asuransi). Email saya cc ke alamat email Ayah saya.

20/11/2017

Aku menghubungi 1500046 untuk follow up status pengiriman dokumen klaim Asuransi Perisai Plus. Namun pihak Call Center (kalau tidak salah namanya Mbak Safira) mengatakan belum ada dokumen yang masuk. Aku diminta mengirim dokumen ulang dan follow up kembali keesokan harinya. Aku juga memastikan dokumen apa saja yang diperlukan (barangkali ada yang kurang), namun setelah aku sebutkan dokumen yang kukirimkan, Mba Safira berkata tidak ada yang kurang. Aku pun mengirim ulang email untuk BNI tersebut, dengan emailku dan dengan email Ayahku (aku khawatir emailku yang bermasalah).

21/11/2017

Aku kembali menghubungi 1500046 untuk follow up, kali ini berbicara dengan Mba Gerda. Setelah di cek, ternyata emailku belum juga masuk. Aku diminta menghubungi lagi keesokan harinya.

22/11/2017

Aku kembali menghubungi 1500046 untuk follow up. Namun tetap dokumenku belum diterima. Aku tanya apakah attachment yang banyak mempengaruhi pengiriman, namun CS mengatakan tidak berpengaruh. Aku pun diminta untuk mengirim kembali. Aku kirim dokumen yang telah di compress 50%.

24/11/2017

Aku kembali menghubungi 1500046 untuk follow up. Namun jawabannya tetap sama, dokumenku tetap belum diterima. Kali ini aku agak marah, karena aku sudah mengusahakan segala cara untuk mengirim dokumen klaim tersebut. Aku juga sempat menanyakan email BNI lainnya atau alamat untuk mengirimkan hardcopy dokumen, namun tidak ada line lain selain bnicall@bni.co.id. Saya pun meminta solusi dari Mas CS Customer Care, beliau mengatakan akan membuat surat komplain dengan label “urgent” dan mengatakan bahwa pihak dari Asuransi Perisai Plus akan menghubungiku paling lambat 27/11/2017.

25-27/11/2017

Tidak ada kabar dari BNI. Hanya ada Marketing BNI yang menawarkan Asuransi lainnya.

28/11/2017

Aku datang ke BNI Cabang Jagakarsa dengan harapan mendapat solusi yang lebih jelas. Karena aku sudah benar-benar tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi. Disana, aku bertemu Mba Imelda sebagai Customer Service. Aku menceritakan semuanya, menunjukkan bukti email terkirim dan menunjukkan dokumen-dokumennya. Mba Imelda menelpon Call Center untuk minta dicek secara live. Akupun mengirim email di depan Mba Imelda, namun email tetap tidak masuk. Akhirnya, aku mengirim dokumen tersebut ke email pribadi Mba Imelda (terkirim, dokumen lengkap, dan bisa dibuka), kemudian Mba Imelda mengirim email tersebut ke email BNI lainnya (bukan bnicall@bni.co.id). Terkirim. Namun…… dari 8 file yang dikirim, ternyata hanya 3 file yang masuk. Mba Imelda pun menyerah dan menyarankan aku untuk datang ke BNI pusat di Sudirman.

30/11/2017

Aku datang ke BNI Pusat di Sudirman dengan perasaan kesal dan siap untuk marah. Di sana, aku bertemu dengan Customer Service yang bernama Mas Adlin. Namun, alangkah kecewanya ketika Mas Adlin bilang bahwa sebenarnya pengurusan Asuransi Kartu Kredit bukan ke CS, dan saat itu yang mengurus kartu kredit sedang tidak ada. Alih-alih marah, tiba-tiba air mataku keluar, dan menangis. Gabungan antara sedih, kesal, marah, dan kecewa terhadap BNI, karena batas waktu pengiriman dokumen klaim sudah hampir habis namun belum ada titik terang sedikitpun. Untungnya, Mas Adlin cukup helpful dan mau membantu saya (fyi, dia pun di oper-oper untuk pengurusan asuransi ini). Akhirnya aku mengirim dokumennya ke email pribadi Mas Adlin, dan Mas Adlin mengirimkan ke email BNI (bukan bnicall@bni.co.id) one by one (untuk memastikan semua dokumen sampai). Setelah dokumen terkirim, saya sedikit lebih lega. Namun ternyata kelegaan itu tidak bertahan lama, tiba-tiba Mas Adlin mengatakan bahwa ada satu dokumen yang kurang, yaitu “Surat Keterangan Tidak Mampu Bekerja dari Kantor” yang sebelumnya tidak pernah diinformasikan.

06-07/12/2017

Kantor Ayahku mengatakan tidak dapat mengeluarkan surat tersebut karena beberapa hal. Sebagai gantinya aku meminta surat keterangan tidak mampu bekerja dari dokter yang merawat Ayahku di RS Siloam. Aku pun mengirim surat itu ke bnicall@bni.co.id dengan cc ke email pribadi Mas Adlin.

08/12/2017

Aku kembali menelpon 1500046 untuk menanyakan status dokumen dan follow up mengenai asuransi, namun dokumen belum diterima dan pihak asuransi harus memeriksa terlebih dahulu apakah asuransi dapat diproses tanpa surat keterangan tidak mampu bekerja dari kantor.

***

Sampai sekarang tidak jelas bagaimana nasib asuransi ini. Sudah agak hopeless dan terlalu kesal untuk berurusan dengan BNI lagi. Any advice? Apakah ada yang pernah mengalami pengalaman serupa?

***

Update Januari 2018:

Setelah menghubungi kembali BNI Call, pihak BNI menyatakan klaim sedang dalam proses di pihak Perisai Plus per tanggal 18 Desember 2017, dan aku hanya harus menunggu prosesnya selesai selama kurang lebih 30 hari.

Update Februari 2018:

Per akhir Desember (mohon maaf tanggalnya lupa, sekitar 20-30an) akhirnya perisai plus cair. Nominal yang dicairkan tidak full 100% hutang seperti yang dijanjikan di sertifikat/polis, tapi lebih dari 90%. Tapi tetap saja alhamdulillah 🙂

***

Akhirnya urusan dengan BNI Perisai Plus selesai. Lega rasanya. Meskipun kali ini proses klaim pada akhirnya bisa diselesaikan dengan baik, tapi personally aku akan berpikir ulang untuk membuka kartu kredit BNI suatu saat nanti. Untuk orang dari BNI yang mungkin membaca blog ini, mungkin bisa minta dibantu sampaikan untuk memperbaiki pelayanan BNI Perisai Plus.

Untuk yang sedang mengurus atau memiliki asuransi BNI Perisai Plus, aku akan simpulkan step by step cara klaimnya:

  1. Baca sertifikat/polis asuransi (untuk mengetahui term and condition nya). Untuk yang punya asuransinya, pastikan ahli waris mengetahui term and condition asuransi.
  2. Jika masih bingung, hubungi 1500046. Cross check informasi yang didapat dari customer service berkali-kali, kalau perlu rekam pembicaraannya.
  3. Lengkapi dokumen dan kirim via email bnicall@bni.co.id.
  4. Email bnicall@bni.co.id tidak bisa menampung banyak attachment, karena berkas klaim banyak, lebih baik buat beberapa part.
  5. Apabila belum mendapat autoreply dari bnicall@bni.co.id, berarti email belum terkirim. 
  6. Jangan lupa follow up secara berkala.
  7. Jika customer service di call center tidak helpful, tidak ada salahnya mendatangi cs cabang terdekat untuk meminta bantuan.
  8. Tips terpenting:  S A B A R.